Arti Berbagi

image

Lebaran kali ini, saya merasa jalanan di Jogja tidak semacet lebaran tahun lalu. Bisa jadi karena lebaran tahun ini berdekatan dengan tahun ajaran baru, dimana orangtua mengeluarkan biaya besar untuk mendaftarkan ulang anaknya sekolah. *trus jadi inget, biaya daftar ulang daycare Luna yang belum dibayar*

Seperti tahun-tahun sebelumnya, saya juga mudik. Pulang ke rumah orangtua yang jauhnya 35 kilometer, tetep bisa dibilang mudik kan..

Beberapa hari kami di rumah mertua dan beberapa hari di rumah orangtua. Meskipun di hari-hari weekend biasanya, sebulan sekali-dua kali kami juga pulang sih.. Tapi setiap lebaran dan natal, selalu menyempatkan diri pulang dan menginap lebih lama.

Sejujurnya, kami bukan pasangan yang betah berlama-lama menginap di rumah lain, bahkan itu rumah orangtua. Semenjak menikah dan tinggal sendiri, semakin lama yang paling nyaman adalah rumah sendiri. Kami bebas bangun sesiang mungkin. Kami bebas tidur tanpa mencuci piring terlebih dahulu. Dan mau mengepel lantai 2 bulan sekali pun, suka-suka kami.

Tapi bukan berarti pulang ke rumah orangtua tidak menyenangkan. Saya selalu excited setiap pulang. Memenuhi travel bag dengan bawaan seakan mudik 1 bulan. Dan menyiapkan stamina karena bakal ngobrol sama mama sampai pagi. Padahal dulu saat serumah kami tidak pernah melakukan itu.

Seringkali, jarak justru membuat kita lebih dekat.

Sekota tapi tidak pulang setiap minggu, kenapa? Beberapa teman mempertanyakan itu.

Memang kenapa? Bukan berarti dengan tidak pulang, kami tidak peduli dengan orangtua kami. Komunikasi kami setiap hari, sudahlah tidak perlu diceritakan. Kami yang tahu dan kami yang menjalani.

Tapi semenjak berkeluarga dan punya rumah sendiri, perlahan kami juga membangun sosialisasi di tempat itu. Bagaimanapun, tetangga dan sesama di sekitar rumah kami, sekarang menjadi “keluarga”. Kalau ada sesuatu yang mendesak, pastilah kami meminta bantuan mereka, alih-alih menghubungi keluarga yang karena jarak baru datang 1 jam kemudian.

Seringkali tidak terlalu “apa-apa orangtua” bisa menjadikan kita dewasa dalam berumahtangga.

Setiap akhir pekan, kenapa kami tidak pulang? Karena kami sibuk dengan kegiatan sosial dan family time bertiga. Berkegiatan dengan tetangga, aktif di keagamaan, mengajak Luna aktif di sekolah minggu, dan sebagainya.

Karena kami mempercayai, manusia sebaiknya tidak hanya memedulikan urusan keluarga intinya saja, tapi juga keluar melayani sesama, membantu orang lain sekalipun mereka berbeda.

Gimana dengan teman-teman semua? Sudah membantu siapa saja hari ini selain keluarga?

Semoga tidak hanya saat bulan Ramadhan yaa.. karena berkat Tuhan yang diberikan ke kita ada di setiap hari. Dan alangkah indahnya kalau kita berbagi berkat itu juga ke orang lain.

Selamat lebaran bagi teman-teman yang merayakan!

Mohon maaf yaa.. kalau saya ada salah dalam segala tulisan di blog ini. Mungkin tulisan saya menyinggung atau menyakiti hati kalian.

Semoga kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna lagi, serta tidak enggan untuk selalu berbagi setiap hari.

🙂

One thought on “Arti Berbagi

  1. aku yo g nang ndi ndi..
    mungkin karena aku g kejogja jadi ga macet *eh
    wes ga kepikir thr dah kebajet buat sekolah juga hikz

    maaf lahir batin yo kalau ada salah2 kata juga :*

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)