#LifeAsEditor: [App Review] iPusnas, Perpustakaan di Genggaman Tangan

 photo he_zpsln1f5vh9.jpg

#LifeAsEditor: Application Review – iPusnas, Perpustakaan di Genggaman Tangan.– Setelah pulang dari talkshow “Buku dan Generasi Milenial” di Mocosik Festival bersama Najwa Shihab & Fx. Rudi Gunawan kemarin, semangat baca saya langsung menggebu-gebu. Menatap tumpukan buku yang kalap dibeli cuma buat koleksi, dan deretan ebook yang dibeli tanpa sempat dibaca. Seketika langsung merasa bersalah.

Penyakit editor yang tiap hari sudah berkutat dengan buku. Sampai rumah rasanya udah males dan capek untuk menyentuh dan membaca buku lagi. Pengecualian bacain buku anak ya..

Baca juga: Kesalahan Penyebab Anak Tidak Suka Baca

Dan kalau Najwa kemarin bilang bahwa membaca buku itu bisa menghibur dan refreshing otak, itu karena part yang puyeng-puyengnya udah jadi bagiannya editor (dan penulis). Bagaimana menyelaraskan kata supaya enak dibaca. Bagaimana strategi pasar supaya judul buku bisa mencuri hati calon pembaca. Bagaimana menyusun sinopsis yang menggugah hati supaya orang membeli bukan hanya meminjam. Bagaimana seni memangkas bagian-bagian yang tidak perlu supaya halaman lebih ringkas dan harga jual tidak terlalu tinggi. Dan masih banyak lagi part puyengnya.

Makanya, kadang tiap baca buku (sekalipun dari penerbit lain) yang seharusnya itu refreshing, malah berasa kerja.

Cih, gitu kok ngaku-ngaku bookworm. -__-

Dulu saya masih suka pasang banner target baca tahunan di Goodreads, di blog ini. Buat pengingat juga sih, bahwa sekalipun saya editor buku, tetep harus baca buku lainnya. Tapi berhubung beberapa tahun terakhir, target itu tidak pernah tercapai, akhirnya saya enggak pernah pasang bannernya. Malu ahh.. Cukup saya dan Tuhan yang tahu berapa banyak buku yang saya baca di tahun ini.

Oke, balik lagi ke semangat baca buku yang menggebu-gebu.

Di talkshow tersebut, berkali-kali Najwa Shihab (yang merupakan Duta Baca Indonesia yang baru, penggantinya Andy F. Noya) meminta kita supaya menggunakan ponsel enggak cuma buat mainan sosmed, tapi juga buat baca buku. Salah satu caranya yang gratis adalah meminjam buku dari perpustakaan digital.

Jakarta sendiri udah bikin aplikasi perpustakaan digital, iJakarta (Jakarta Digital Library). Tapi berhubung saya bukan warga Jakarta, rasanya agak gimanaaa gitu make aplikasinya. Selain itu, pas dulu download koleksi bukunya juga belum banyak.

Tapi, setelah tahu Perpustakaan Nasional bikin aplikasi perpustakaan digital, iPusnas. Langsung jatuh cinta, karena koleksi bukunya banyakk.. Mulai sekelas Tere Liye dan Dee Lestari, sampai penulis kelas teri yang mungkin itu buku pertama dan terakhirnya. Eh, buku-buku yang aku edit juga ada lohh..

Baca juga: Tentang Dee Lestari

Di awal setelah download aplikasi ini, langsung disuguhkan ilustrasi Pak Jokowi dan JK seperti ini.

 photo 1487095055384_zpsa7cwks3n.jpg

Ihhh.. aku laff banget. Semoga ini salah satu langkah nyata untuk menaikkan minat baca di Indonesia. Kalau cuma prihatin-prihatin mulu, tapi enggak ada eksyen dari pemerintah ya sami mawon. Rakyat akan cinta baca kalau pemerintah memfasilitasinya.

Baca juga: Sudahkah Membaca Buku Hari Ini?

Cara menggunakan aplikasi ini gampang banget-nget. Tinggal login pake Facebook atau Email, setelah itu masuk ke laman kumpulan semua bukunya. Cuma sayangnya, pengategorian buku masih belum sempurna. Saya yang cuma pengin lihat koleksi novel harus scroll semua koleksinya yang nyampur dengan buku-buku kategori lain, seperti buku Metode Penelitian Kualitatif. *mendadak inget masa-masa jadi asdos MPK*

 photo 1487095106068_zpssm6fiypn.jpg

Teknis meminjam buku di perpustakaan digital ini sama persis dengan pinjem buku di perpustakaan biasa. Satu judul tersedia beberapa copy. Kalau sudah habis semua dipinjem orang lain, ya kita harus antri untuk pinjem. Dan tiap buku ada masa pinjamnya yang berbeda-beda, tergantung jumlah halaman. Bisa 2 atau 3 hari. Trus kalau udah habis masa pinjamnya, secara otomatis buku itu udah enggak ada di daftar pinjaman kita.

 photo 1487133050715_zpsngohpcer.jpg

Di sini, kita bisa juga lihat siapa aja yang udah minjem buku tersebut. Siapa tahu ada yang kenal dan bisa dimintain reviewnya. Juga, misal kita mau antri minjem buku tersebut, kita juga bisa lihat daftar pengantrinya, kita ada di urutan berapa. Nanti akan ada notif ketika bukunya sudah ready untuk dipinjam.

 photo 1487095194308_zps8z5a3mtm.jpg

Overall, iPusnas ini aplikasi yang keren. Enggak perlu jauh-jauh ke taman bacaan dan ngeluarin duit buat minjem buku. *eh siapa di sini yang anak taman bacaan* Meski saya belum lihat koleksi komik manga di iPusnas, tapi penggantinya ada komik Agen Polisi 212 kok. Bisalah yaa dibaca juga.

Paling laff banget karena koleksi bukunya ada banyak dari berbagai macam genre dan masih akan bertambah lagi. Secara ya, Perpustakaan Nasional kan yang pegang kuasa mengeluarkan ISBN buku. Semua buku di Indonesia yang akan diterbitkan, harus laporan ke Pusnas. Wajarlah, kalau mereka punya akses istimewa untuk memperbanyak koleksi bukunya.

Dan iPusnas bikin aktivitas membaca jadi lebih praktis dan murah. Baca buku bisa dimana aja, gratis. Enggak perlu pinjem pake potong pulsa atau bayar pake kartu kredit. Cukup punya smartphone dan email aja. Selesai.

Semoga ini salah satu cara untuk menaikkan minat baca rakyat Indonesia ya..

Karena baca buku adalah cara supaya kita semakin pintar membedakan mana bacaan bermutu, mana bacaan menyesatkan. #TurnBackHoax

Begitu kata Najwa kemarin…

Ohya, iPusnas bisa diunduh di PlayStore, AppStore, atau Desktop

 

29 thoughts on “#LifeAsEditor: [App Review] iPusnas, Perpustakaan di Genggaman Tangan

  1. Aku dulu happy banget pas tahu ada I-Jak. Secara enggak biasa beli e-book untuk baca di perjalanan atau baca sebelum tidur. Makanya udah lama langganan I-Jak. Eh ternyata sekarang ada I-pusnas, tahu dari acara MocoSik juga. Tapi baru downloads belum sempat pakai.

  2. Mestinya setelah ada aplikasi ini minat baca anak khususnya di Jakarta meningkat banyak, ya. Tapi kalo saya pribadi kok ya lebih nyaman baca buku secara fisik ya. Di samping ada nilai collectiblenya juga, sih.

  3. Aku masih kesulitan kalo baca buku via hp. Lebih gampang capek rasanya. Blom lagi rasanya jadi berbagi jatah batre. Abis hp nya multifungsi banget ya sekarang ini. Buat ngobrol, buat nulis, buat cari kerja, buat ngedit foto dan video, buat motonya juga.

  4. Wuaa.. baca ini jadi ingat juga deretan buku yg bertumpuk dan (masih) berstatus koleksi karena belum dibaca. Duh mba Nonni tahu aja. Aplikasi gini sebenarnya membantu banget ya mba. Tapi kok saya berasa baca buku baru afdol kalo baca hardcopy ya.. duh duh.. masih konvensional bgt ya.

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)