Anak Bukan Investasi

 photo 1495387124556_zpsv5dywkaf.jpg

Di postingan sebelumnya saya menulis tentang pertimbangan memilih sekolah untuk anak. Setelah menulis itu saya jadi mikir (dasar anaknya pemikir), sebenernya apa sih yang kita (orangtua) harapkan dari sekolah-sekolah itu? Apa yang kita cari? Apa yang kita inginkan?

Oh well, sebagai orangtua bervisi-misi masa depan jelas, tentu saya bisa menjelaskan dong..

Saya berharap Luna akan tumbuh menjadi anak yang pintar akal dan budinya. Dan sekolah akan membantu saya untuk menyiapkan masa depannya yang lebih baik, bahkan lebih baik daripada saya.

Lalu kalau sudah bermasa depan lebih baik, akan seperti apa?

Hhmm… Seperti apa ya.. Yang pasti, saya akan membanggakan dirinya, salah satunya mungkin menceritakan pencapaian-pencapaiannya ke teman-teman, atau memuji semua kehebatannya.

Norak ih! Iya sih, tapi bukankah banyak ibu-ibu yang melakukan hal seperti ini juga. Sekecil apapun pencapaian anak pasti seorang ibu akan bangganya bukan main dan ada rasa ingin menceritakannya ke seluruh dunia. Wajar kok. Saya pun melakukannya.

Baca juga: #ParentsTalk: Skill yang Harus Dimiliki oleh Anak Perempuan

Kesimpulan dari serangkaian pertimbangan dalam pendidikan anak, kita pasti menyiapkan segala sesuatu yang (menurut kita) terbaik buat anak kita, dan tanpa kita sadari, sebenarnya kita sedang menggantungkan harapan-harapan positif untuk hidupnya.

Tapi apa yang terjadi kalau ternyata masa depan si anak tidak sesuai dengan yang kita harapkan? Di sekolahin di sekolah termahal dan terkeren, ternyata “cuma” jadi pegawai biasa. Udah susah-susah masuk ke perguruan tinggi negeri, ternyata kerjanya yang “cuma” di perusahaan biasa bukan di perusahaan level multinasional. Dan lain sebagainya.

Mungkin ada sebersit rasa kecewa di hati kita. Seperti kalau misal anaknya udah dididik sesuai agama di keluarga, tapi besoknya dia pindah agama ngikut suami/istrinya. Apa ya mau dipecat jadi anak, darah daging kita sendiri loh.. Hahaha Lagi rame tulisan Afi, remaja asal Banyuwangi, tentang Warisan itu kan.. Tapi saya enggak akan ngomongin itu kok..

Baca juga: Ketika yang Dipilih Anak Tidak Diinginkan Orangtua

Balik lagi tentang perandai-andaian jika masa depan anak tidak sesuai dengan yang orangtua harapkan. Sebenernya harapan yang seperti apa sih? Atau jangan-jangan kita sendiri yang menciptakan standar-standar itu tadi? Sekolah di sekolah terkeren, besok kerjanya minimal di perusahaan multinasional, atau jabatannya minimal manajer, dan gajinya bisa buat beli rumah cash no credit.

Sadar atau enggak, dengan pola yang seperti ini kita sebenarnya sedang melakukan investasi dalam bentuk anak. Investasi itu kan, mengeluarkan modal besar supaya untungnya besar juga. Kita menanamkan investasi di masa muda, supaya besok masa tua atau masa non-produktif investasi itu bisa menghasilkan passive income buat kita. Kalau keuntungannya kecil atau bahkan enggak untung, bisa dikatakan investasi itu gagal.

Kalau begini, apa ya iya, kita mau menerapkan pola investasi ke anak, dengan menggantungkan segala standar-standar masa depan cerah versi kita sendiri. Paling menyedihkan kalau ada embel-embel, syukur-syukur besok dia bisa ikut menaikkan derajat orangtua dengan menafkahi orangtua.

Kasian dong anak kita, rantainya enggak putus-putus. Setelah kita menafkahi orangtua kita, dia pun punya kewajiban untuk menafkahi kita orangtuanya. Itu namanya Sandwich Generation.

sandwich generatioan
source: finsecpartners.com.au

Anak ada di tengah, dia dihimpit dengan kebutuhan ekonomi keluarganya sendiri, lalu didesak dengan kewajiban menafkahi orangtua. Kasian ruang geraknya jadi terhambat.

Bukannya saya mau ngajarin anak untuk durhaka loh ya.. Cuman, saat ini pun saya sedang belajar untuk tidak menjadikan anak sebagai investasi dengan label keuntungan: masa depan cerah versi kita. Kita boleh punya harapan, tapi jika besok dia tidak sesuai dengan harapan kita, kita tidak berhak untuk marah apalagi kecewa berkepanjangan dan menganggapnya anak yang tidak membanggakan orangtua.

Anak selalu bisa membanggakan orangtua dengan caranya sendiri, tergantung bagaimana kita melihatnya.

Dan ayo dong.. stop mata rantai “menafkahi” itu tadi. Jangan jadikan anak sebagai sandwich generation. Biarkan ruang geraknya lebih bebas untuk merangkai masa depan cerah versinya sendiri. Caranya, dengan kita mengusahakan hidup yang lebih baik untuk keluarga kita sendiri, sehingga besok tidak perlu tergantung pada anak kita.

Karena anak punya hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

29 thoughts on “Anak Bukan Investasi

  1. seetujuuu… anak bukan investasi. Stop mata rantai menafkahi, biarkan anak belajar bertanggung jawab dengan menafkahi keluarganya sendiri nanti. kita sebagai orang tua harus bisa mandiri.

  2. Bener juga ya aku jd mikir tentang hal ini, klo jd sandwich generation kasian atuh si anak dobel2, palagi kelak mereka akan berkeluarga sendiri en pastinya uda punya tanggungan masing2…klo kita sebage ortu membebankan pamrih balik modal, bisa2 akan mrnambah beban si anak juga, tx for pmikirannya

    1. Alih-alih sebagai “ucapan terima kasih”. Menurutku, anak bisa hidup mandiri & menghidupi keluarga dengan jauh lebih baik, itu sudah jadi “balasan” buat kita yg selama ini membesarkannya. Berarti kita berhasil mendidiknya. :)

  3. Baru tau ada istilah sandwich generation, lucu juga dengernya. kalo rantai sandwich generation ga putus-putus mana maju-maju generasi kita?

  4. Setujuuuu! Anak memang bukan investasi mbak..
    Biarkan ruang bebas untuk berkreasi yang penting sbg orangtua kita telah mendidik dan mengarahkan yg baik untuk anak

  5. Anak jaman sekarang sudah jauh berbeda dengan anak jaman dulu. dulu anak anak ngga punya pilihan karena mereka sudah dipilihkan, namun sekarang mereka bebas memilih dan mengembangkan kemampuan yang mereka punya dan suka

  6. Benar lho apa yang Noni uraikan, anak adalah cara kita investasikan pendidikan dan kemandirian. Jangan sampai anak harus terkunkung akan pilihan orangtuanya sedangkan ia tak begitu menginginkannya.

  7. Aku malah ngliat dari sisi agama aku.
    Jadi namanya berbakti pada orang tua memang tidak harus selalu dalam bentuk materi. Tapi bisa dengan doa dan meneruskan amalan baik kedua orang tua nya.

    Ada quote bagus dari Abah Ihsan (pakar parenting dari Auladi Parenting School) bahwa
    Warisan terindah yang bisa kita berikan pada anak kita adalah ajaran-ajaran yang kita tanamkan saat ini.

    Mungkin bahasa ekonominya sama dengan investasi?

  8. Sandwich Generation sepertinya amat sangat mendarah daging di pedesaan, itu pun terjadi di tempatku sendiri,
    Iya, mungkin untuk sebagian orang tua menyadari akan hal itu, si anak punya kebebasan dalam menentukan masa depannya.
    Terima kasih untuk pencerahannya Mbak ^_^

  9. Br tau istilah sandwich generation, tp emang sih, kl misal si anak udah berlebih, bs bantu2 ortunya jg setelah menghidupi keluarganya sendiri :)

  10. Suka banget sama bahasan artikelnya
    Sebenarnya belum jadi orang tua, namun yang dari dulu sampai sekarang dilalui. Saya sebagai anak malah sesudah masuk masa putih abu-abu udah dibebaskan mau kemana jalur masa depannya.
    Malah orang tua sudah sadar dan membebaskan saya mau kemana saya meneruskan hidup. Orang tua chanya menyarankan saya dan membantu saya apa yang saya butuhkan saja.

  11. Anak gak sesuai standar orangtua lalu smacam dibully dikatain gak berguna, duh sakit. Terima kasih atas pelajarannya, Mbak. Semoga nanti saya tdk membebani anak

  12. Aku padamu mbak noni. Anak memang punya hak untuk menentukan masa depannya, dan juga tidak harus dibebani dengan membahagiakan orgtua. Org tua hanya sbg fasilitator saat tumbuh kembangnya, setelah dewasa anak harus bisa menentukan keinginnany sendiri.

  13. Sandwich generation menarik ini buat dikulik-kulik. Saya setuju dengan konsep anak bukan investasi. Kasihan masa depannya jika masih harus terhambat oleh bayangan masa lalu. Padahal bisa jadi si anak punya potensi besar buat jadi orang hebat bagi negeri ini. Kalau ternyata justru orangtua membatasi ruang geraknya atas nama bakti, wah, perlu dipertanyakan ulang itu.

  14. Paham banget posisi anak di tulisan ini. Enggak enak banget jadi sandwich generation. Ruang gerak terbatas. Penginnya begini, tapi orangtua minta begitu. Maunya jadi ini, tapi orangtua maksa buat jadi itu. Ah. Gak enak. Suka sekali sama tulisan ini, Mbak.

  15. Jadi ikut merenung dengan apa yang Mba Noni tulis :/
    Pasti sebagian besar ortu pada berpikir anak itu adalah investasi.
    Tapi aku gak mau, aahh…
    Intinya mau memberikan segala yg terbaik utk mereka aja.

  16. Generation sandwich lucu juga namanya tp jangan sampai beban kita berimbas ke anak. Senagai orang tua harus bisa menyembunyikan beban hidup atau jangan sampai anak kita tau apa masalah kita

  17. Iya setuju banget mbak Noni.
    Seringkali ortu ngarahin anak ke jalan A atau jalan B, tapi tdk bener2 ingin tau apa yg diinginkan anak.
    Emang udah kewajiban ortu membesarkan dan mendidik anak, tapi sesudahnya ya kita jg harus melepasnya.
    Moga kelak kita semua jd ortu yg legowo apapun pilihan anak dan jg gak “membebani” ya mbak
    Trima kasih ulasannya yaaaa

  18. Aku sangat setuju dengan kita jangan menggantungkan hidup pada anak saat dia besar nanti. Ya berdoa aja semoga kita bisa memberikan dan menyiapkan diri kita penghidupan yang layak untuk sekarang dan nanti

  19. Setuju! Aku bersyukur punya orangtua yang membebaskan aku mau sekolah dan belajar apa pun selama tidak melanggar aturan agama. Dulu pengen bagnet masuk jurusan bahasa ketika SMA, sampai dicariin sekolah yang ada jurusan bahasanya, pindah sekolah cuma buat kelas 3 aja (Sekolah sebelumnya menjanjikan akan ada jurusan bahasa terus pas mau kelas 3 bilang ga jadi buka).

  20. Sehingga tidka boleh kita abaikan.. namun bukan berarti cita-cita kita harus dicekokin ke mereka.. mereka akan keliatan sebenarnya sukanya di mana. Saya sendiri juga korban ortu heehe. dulu suka nggambar. bahkan saya bikin komik dan buku sejak SD. semua tulisan tangan di buku tulis. Namun tak didorong sekolah desain grafis, komunikasi apalagi animasi.

    Ya jadinya ngga bisa apa-apa. Untung hobi nulisnya kesalur karena blogging.

  21. setuju banget, bund! malah kalok aku cita-citanya jgn jgn membebani anak, kl bisa kami kaya sama-sama , hahahahah! masa tua tetep bisa sebar-sebar angpao ke anak cucu :))))

    1. eh sama aja ya menentukan cita-cita anak–> “sama-sama kaya” wkwkkww, gitu deh bund, smga bsk akika nggak memaksakan kehendak, :)))

Silakan tinggalkan pesan. Tapi maaf ya.. link hidup akan otomatis dihapus. :)